Mimpi dan Bersyukur – YOAM

Setiap manusia di dunia memiliki mimpi, mimpi yang akan diwujudkan suatu saat nanti. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak punya mimpi sekalipun dia berpikir seluruh isi dunia ini membencinya dan tidak ada satu orang pun yang harus dia percayai. Hmmm, permasalahan percaya ataupun membenci bukan menjadi pokok permasalahan yang dihadapi. Pandangan terhadap sesuatu dan kemampuan percaya pada diri sendiri bisa menjadi kuncinya.

Ada satu dari sekian banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan “Apakah manusia memiliki hak yang sama untuk bahagia ?” “Jika demikian, mengapa harus ada si miskin dan si kaya, si pintar dan si bodoh, si beruntung dan tidak sama sekali ?“. Pernahkan bertanya pada diri sendiri “mengapa sih aku terlahir ke dunia seperti ini ?” “Mengapa aku terlahir dengan hidung yang masuk kedalam ?” “Kenapa sih aku punya tangan yang jelek dan hitam ?” “Kenapa sih mataku ini sipit dan kelihatan besar sekali ?“. Ketika sampai pada pertanyaan itu berarti kita sampai pada pernyataan kalau manusia mempertanyakan apa yang sudah diberikan dan juga tidak pernah puas dengan apa yang didapatkan.

Benar sekali, aku pun tidak pernah puas dengan apa yang aku dapatkan. Semua pertanyaan yang pernah kupertanyakan kepada diri sendiri. Setelah beberapa saat, kemudian timbul keinginan agar semua pertanyaan terjawab dan langsung berada di depan mata. Tenang saja menunggu, karena tidak akan ada yang menjawab pertanyaan seperti itu. Pernahkan mengatakan atau terpikir “Masih punya hidung untuk bernafas, aku bersyukur” “Masih ada tangan untuk bekerja, aku bersyukur” “Dunia ini indah sekali, terimakasih mata kecil“. Aku jadi teringat dengan salah satu ucapan Culture of Respect dan Culture of Awareness, Silahkan pikirkan sendiri maknanya ya.

Kok bisa anak kecil seperti ini ?” “Mengapa anak kecil seperti ini sudah terkena penyakit ini ?” Jangan tanya aku mengapa, jangan tanya orangtua yang melahirkan anak itu dan juga jangan tanya kepada anak itu. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bermain bersama teman-teman seumuran dan juga keluarga dihabiskan untuk beristirahat dan menyembuhkan diri. “Apakah mereka ingin mengidap dan hidup dengan penyakit itu ?” Jawabannya sudah pasti tidak. “Mengapa tidak orang yang jahat diluar sana saja yang terkena penyakit itu ?” Tanya kepada Tuhan tapi, pernahkah membaca atau mendengar “Karena Tuhan ingin menunjukan kuasaNya“.

Kesempatan yang luar biasa dapat melihat adik-adik ini. Bermain games, bercerita, pohon impian dan berbagi kebahagiaan. Banyak pelajaran yang didapat, salah satunya bersyukurlah dengan keadaan dan kondisimu saat ini serta hormatilah apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidup seseorang, jangan menggerutu dan mencela. Pasti ada alasan dan harapan. Jangan lupa bermimpi dan ubah dunia menjadi lebih baik. Terimakasih adik-adik di Yayasan Onkologi Anak Medan, kalian mengajarkan kami banyak hal dan membuat kami berhenti menggerutu dengan kehidupan yang kami terima saat ini.

Jika ada kesempatan, mampirlah sesekali ke Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM) di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Lihat sendiri dan posisikan dirimu seperti mereka. apa sebenarnya yang mereka butuhkan.

 

AIESEC Universitas Sumatera Utara bersama anak-anak dari Yayasan Onkologi Anak Medan

Orang bijak menjadikan masalah besar menjadi kecil
tetapi orang bodoh menjadikan semuanya semakin rumit dan besar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s